Selasa, 05 Maret 2013

KAMPUS: Membuat mimpi semakin nyata



KAMPUS: Membuat mimpi semakin nyata

Oleh: Deni Setiadi

 

Saya lahir pada tanggal 3 oktober 1991, putra ke dua dari 4 bersaudara yang berasal dari sebuah perkampungan kecil di perbatasan Serang-Pandeglang. Ada dua kemungkinan wilayah perbatasan, mereka mendapatkan akses dari setiap daerah yang berbatasan atau terjebak diantara dua daerah. Saya sendiri tinggal pada daerah yang terjebak diantara perbatasan. Cukup sulit akses transportasi umum, hanya sekali angkutan pedesaan melintas, itu pun penuh oleh pedagang yang hendak belanja untuk dijual di kampung masing-masing. Alhasil setiap pagi harus rela bergelantung hingga tiba disekolah SMA. Saya sangat bersyukur meski harus bergelantungan, toh ketika SD dan SMP selalu jalan kaki, bahkan butuh waktu hingga 45 menit untuk tiba di sekolah SMP.  Itu pun harus jalan dengan cepat, karena kalau sampai bersantai-santai tentu harus rela memandang terik mentari yang begitu sehat disetiap paginya. Tepat ditengah lapangan upacara sembari memberikan hormat dan senyuman kepada bendera Indonesia.  Ahhh begitu nasionalismenya saya pada saat itu.

 

Saya akan memperkenalkan tempat penjelajahan ilmu yang telah banyak merubah kearah lebih baik. Saya pertama kali mengenal sekolah di SDN Sukajaya 1,  tidak ada Taman Kanak-kanak  di tahun 1997. Kemudian tahun 2003 melanjutkan sekolah di SMPN 1 Cadasari, semakin jauh jarak yang harus ditempuh dengan berjalan tentunya. Motor masih menjadi barang mewah,  Namun lelah yang dirasakan hilang bersamaan dengan kebersamaan bersama kawan-kawan menapaki setiap jalan secara berbarengan. Saya sendiri sering rindu mengingat kejadian itu, moment langka terjadi untuk jaman sekarang. Selama tiga tahun kami merangkai kata disetiap jalanan hingga kata LULUS memisahkan kami untuk beberapa saat. Saya melanjutkan ke SMAN 1 Pandeglang dengan harapan besar. Sebuah mimpi yang sudah terukir  sejak SMP dalam tulisan kaligrafi bertuliskan “Deni Setiadi, M.Sc”. meski pada saat itu saya belum tahu definisi gelar tersebut. Tapi saya begitu yakin bahwa SMA tersebut akan menunjukkan jalan untuk menggapai cita-citan dan harapan. Lulus SMA saya melanjutkan ke Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) pada Program Study Pendidikan Matematika. Sesuatu hal yang tidak saya inginkan sebelumnya.

 

Saya tidak mau kuliah di Untirta, karena tempatnya yang cukup dekat. Selain itu, teman-teman sekelas semuanya mendaftarkan diri ke kampus-kampus di luar Banten. Tentu saja saya pun ingin kuliah pada kampus yang sudah sangat terkenal dan yang terpenting di luar Banten. Desakkan ibu mengharuskan saya mendaftarkan diri ke Untirta lewat jalur PMDK tidak. Meski pada saat itu saya ingin mendaftar lewat jalur PMDK juga di UPI Bandung. Melihat peluang serta kompetensi yang saya miliki akhirnya mengikuti anjuran Ibu. Alhamdulillan diterima di Untirta sesuai dengan jurusan yang saya tulisakan pada lembar formulir. Sebuah kebanggan bagi keluarga, namun saya masih belum terlalu bahagia karena keinginan kuat kuliah di luar Banten yang terlihat memberikan tantangan berbeda. Saya mencoba ikut seleksi Simak UI dan tes masuk STAN, hasilnya belum diterima.  Pada awal masuk Untirta saya tidak terlalu menikmatinya. Namun selang beberapa minggu merubah semua perasaan saya tentang Untirta. Saya begitu jatuh cinta dengan kata UNTIRTA.

Saya berada pada kelas yang cukup membuat minder, maklumlah semua mahasiswa PMDK di Matematika numpuk dalam satu kelas. Sisanya adalah peserta SNMPTN dengan nilai tertinggi di jurusan matematika. Apalagi melihat beberapa kawan sekelas yang membawa sertifikat bertuliskan “Siswa Terbaik di SMA. . . . .” membuat minder saya masuk ke level tertinggi.  Namu  itu tidak berlangsung lama, saya bisa beradaftasi dengan mereka begitu juga sebaliknya. Mereka sangat ramah dan begitu baik membuat saya sangat betah berlama-lama di kelas.

Pada saat semester 2 ada pengumuman beasiswa Perusahaan Gas Negara (PGN), saya mendaftarkan diri penuh keyakinan akan diterima. Tentu saja hal itu dibarengi dengan proses mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui Sholat Duha dan Qiyanul Lail. Pengumuman tiba, saya mengucap syukur menjadi bagian penerima beasiswa tersebut. Salah satu modal terbesar saya adalah Indeks Prestasi (IP)  di semester 1 mencapai 3,5. Ini perlu menjadi perhatian buat mahasiswa semester 1 untuk memaksimalkan diri meraih IP tinggi. Bukan berarti harus berorientasi pada nilai, melainkan semester satu kebanyakan mata kuliah pengulangan ketika SMA, masih sangat dasar. Seharusnya bisa memperoleh  IP tinggi. Usahakan untuk tidak terlalu terlena karena menikmati status sebagai mahasiswa. Sehingga saya selalu mengatakan bahwa semester 1 adalah modal terbesar sebelum menjajaki 7 semester selanjutnya.

IP cukup serta mendapatkan beasiswa menjadikan saya percaya diri mengikuti beberapa organisasi. Diantaranya LDK Baabussalam, KAMMI Komisariat Untirta, HIMATIKA, BEM FKIP, TRAS, KAMMI Banten, Kumandang. Bahkan ikut terlibat dalam kepengurusan Ikatan Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan Seluruh Indonesia (IMAKIPSI Jawa 1) sebagaia kepala departemen Infokom hingga tahun 2013. Selain itu, saya menjadi konselor muda  dan terlibat disebuah organisasi social tingkat wilayah yaitu GEMPITA (Generasi Muda Pembina Insan Berprestasi). Focus organisasi ini pada penanganan kasus pornografi, pornoaksi, narkoba, dll. Pengalaman organisasi menghantarkan saya dapat menjelajahi beberapa tempat dibelahan Indonesia yang berbeda. Seperti jawa, sumatera maupun Sulawesi dan Nusa tenggara.

Proses perkuliahan saya selama beberapa semester tidak jauh berbeda dengan teman-teman yang lain. Belajar, diskusi, mengerjakan tugas, ujian, bercanda gurau. Namun ketika semester 6 merupakan sebuah momentum perubahan luar biasa pada diri. Saya menemuka sebuah harta yang tidak terhingga. Yaitu sebuah rasa suka terhadap sastra. Ini bermula karena sebuah kompetisi Pekan Seni Mahasiswa Nasional  (PEKSIMINAS XI). Ketika keluar kelas sehabis kuliah, saya melihat  pengumuman bertuliskan “PEKSIMINAS XI Goes to NTB”. Saya adalah orang yang sangat mencintai sebuah kata “jalan-jalan” apalagi bisa gratis. Dalam pengumuman dituliskan beberapa tangkai lomba yang harus diikuti. Diantaranya: monolog, cipta dan baca puisi, tari, vocal group, menyanyi solo, cerpen, dll. Saya sangat tahu diri pada saat itu, hanya ada dua kemungkinan lomba yang bisa diikuti meski belum berpengalaman dikeduanya. Yaitu cipta puisi dan cerpen. Saya berfikir bahwa membuat cerpen lebih sulit dari pada puisi karena jumlah kata  yang disusun jauh lebih banyak. Sehingga ada peluang besar bisa juara disitu, mengingat peserta pasti tidak banyak disbanding puisi. Walaupun saya tidak terlalu berharap bisa menjuarai lomba tersebut apalagi ketika melihat peserta lain yang berasal dari beberapa jurusan termasuk jurusan diksatrasia. Saya yakin bahwa mereka sudah sangat faham dengan ilmu cerpen. Sedang saya baru akan memulai membuat cerpen pertama ketika lomba seleksi PEKSIMINAS XI tingkat kampus.

Pengumuman tiba, saya sendiri tidak bisa hadir. Beberapa kawan mengirim sms kalau saya juara 1 lomba cipta cerpen tingkat kampus. Sebuah kebanggan tersendiri karena cerpen pertama saya langsung mendapatkan reward juara 1. Memperbesar peluang saya bisa ke NTB.  Ternyata saya harus mengikuti seleksi kembali tingkat provinsi agar bisa berangkat kesana. Alhamdulillah tepat di hari seleksi tidak ada peserta dari kampus se-banten yang mendaftar ikut lomba cipta cerpen. Kebetulan pada waktu yang bersamaan, saya tidak bisa ikut seleksi cipta cerpen tingkat provinsi karena harus monitoring evaluasi (monev) di kampus UNJ Jakarta. Ini terkait Proposal Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) bidang pengabdian pada masyarakat. Saya dan kawan satu kelompok mendapatkan dana hibah dari Dikti untuk menjalankan program sesuai isi proposal.

 

Seharusnya saya otomatis menjadi wakil Banten untuk bernagkat ke NTB, namun tidak ada kepastian hingga menjelang H-5 pemberangkatan. Pada posisi tersebut saya memperoleh pengumuman kalau lolos KKN Nasional di Bengkulu setelah mengikuti rangkaian seleksi dikampus. Saya sempat bingung memilih KKN Nasional di Bengkulu atau lomba cipta cerpen di NTB. Kebetulan waktunya berbarengan. Hati saya lebih memilih mengikuti lomba cipta cerpen karena secara langsung dapat mengharumkan nama provinsi dan kampus. Namun tidak ada kepastiannya membuat saya ragu. Bahkan isu yang berkembang saya dan beberapa kawan lain tidak jadi diberangkatkan ke NTB.

Ketika tekad serta keyakinan kuat dan dilengkapi dengan sebuah do’a. saya yakin bahwa Allah akan memberikan jalan terbaik untuk hamba-Nya. Beberapa hari sebelum acara pelaksanaan lomba di NTB, saya dihubungi untuk mengikuti rapat di rektorat. Ternyata pengumuman pemberangkatan untuk PEKSIMINAS XI. Langsung saja saya mengundurkan diri utnuk tidak mengikuti KKN Nasional.

“Welcome Lombok” dua kata yang begitu ajaib terpampang jelas di Bandara Internasional Lombok. Saya sudah tidak sabar untuk menjelajahi daerah tersebut. Hingga sempat terlupakan bahwa saya kesana membawa tugas khusus untuk mengikuti lomba CIpta Cerpen. Sehari sebelum pembukaan PEKSIMINAS XI digelar, saya menejlajahi Lombok sendiri, sengaja tidak mau mengajak kawan satu provinsi ataupun panitia pendamping. Modal nekat dan berani membuat saya bisa sampai dengan selamat ke beberapa tempat wisata disana. Masyarakatnya sangat ramah, hingga saya pun tidak segan untuk berinteraksi dengan mereka. Mulai dari memperkenalkan diri, menanyakan tempat wisata hingga bertanya cara agar sampai ke tempat wisata itu dengan menggunakan kendaraan umum. Pantai Senggigi, Batu Layar, Batu Bolong dan beberapa tempat lain bisa saya kunjungi sendiri.

Tiba waktunya perlombaan dimulai, tema cerpen sudah ditentukan ketika technical meeting. Sekitar 28 provinsi ambil bagian dalam perlombaan cerpen ini. saya bersaing dengan mahasiswa yang kebanyakan berasal dari sastra. Adapun dari jurusan non sastra, namun mereka sudah membuat banyak tulisan hingga pernah dibukukan. Sedangkan saya, hanyaketika technical meeting. Sekitar 28 provinsi ambil bagian dalam perlombaan cerpen ini. saya bersaing dengan mahasiswa yang kebanyakan berasal dari sastra. Adapun dari jurusan non sastra, namun mereka sudah membuat banyak tulisan hingga pernah dibukukan. Sedangkan saya, masih sangat awam dengan dunia cerpen.  Akan tetapi, tekad kuat dan percaya diri yang tinggi membuat saya mampu melewati lomba tersebut dengan baik. Hingga tiba pengumuman dan saya meraih juara 1 Lomba Penulisan Cerpen tingkat Nasional pada PEKSIMINAS XI di NTB. Meskipun tidak mendengar pengumuman secara langsung karena pada saat itu beberapa kontingen Banten sudah ada di Bali. Termasuk saya.

Senang, haru, bahagia semua bercampur menjadi satu, saya sedikit menorehkan prestasi untuk Untirta dan Banten. Apresiasi pun berdatangan dari beberapa dosen terutama Pak Firman Venayaksa yang sudah membimbing sampai mendapatkan juara tersebut.  Selanjutnya ucapan selamat dari Rektor, Wakil Rektor, Wakil Dekan, dosen serta beberapa civitas akademika lain disampaikan penuh bangga. Ini menjadi titk puncak motivasi untuk melanjutkan berkarya di bidang sastra. Hingga tulisan ini dibuat sudah beberapa cerpen yang terangkai dari beberapa kata-kata. Ada cerpen yang berhasil masuk dalam antologi cerpen nasional, terbit di media massa dan online, serta masuk menjadi finalis cerpen nasional untuk kompetisi yang berbeda.

 

Pada akhir tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa jurusan kuliah yang kita ambil tidak cukup mempengaruhi hidup kita, melainkan kesungguhan dalam meraih mimpi untuk sebuah tujuan. Namun tidak berarti harus meninggalkan perkuliahan ketika sudah menemukan jalan hidup, karena kuliah adalah bagian dari modal masa depan kita. Selalu percaya bahwa Allah tidak pernah diam ketika hamba-Nya meminta penuh kesungguhan, bahkan ketika kita tidak meminta pun Allah selalu memberikan jalan dan harapan. Keyakinan saya semakin bertambah ketika belum lama bisa menapakkan kaki di bumi Palu, Sulawesi tengah sebagai Delegasi Banten mengikuti Jambore Pemuda Indanesia dan ASEAN. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya bisa kesana dan bertemu kawan-kawan se-Indonesia dan ASEAN. Semoga kedepannya bisa menjelajahi bumi Indonesia yang lainnya. Semakin Cinta kepada Allah, Indonesia dan Untirta.

3 komentar:

  1. ternyata banyak hal yang menginspirasi untuk adik-adik mahasiswa. deni membuktikan kalau ada kesungguhan pasti akan berhasil. good story

    BalasHapus
  2. Semoga kata2 biasa ini bisa menginspirasi dan terus meningkatkan prestasi diberbagai bidang

    BalasHapus